KEKEJAMAN ISRAEL

KEKEJAMAN ISRAELheader1

Kami Tidak Tinggal Diam Wahai Palestina!!!

Penulis: Abu Yazid Nurdin (dari Riyadh, Saudi Arabia)
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Alhamdulillaahi –l Khaaliqil kauni wa maa fiih, wa jaami’in naasi li yaumin laa raiba fiih. Asyahadu an laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan rasuulullaah… wa ba’d…
Perhatian dunia dalam beberapa hari ini tertuju pada Jalur Gaza. Invasi tentara Yahudi ke Gaza menelan banyak korban terutama wanita dan anak-anak. Korban luka-luka semakin memperbanyak deretan korban meninggal dunia. Dunia pun merespon dengan berbagai macam aksi.
Di antara aksi sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa kaum muslimin di Palestina itu adalah aksi berupa bantuan kemanusiaan. Yang paling menonjol dalam hal bantuan tersebut adalah Saudi Arabia, di bawah pimpinan Raja Abdullah bin Abdul Aziz –ayyadahullah-. Ini bukan klaim tanpa bukti. Sebagai contoh: Program “Donasi Untuk Palestina” digencarkan, walaupun sudah sejak lama dicanangkan. Rumah-rumah sakit ternama di pusat kerajaan Saudi difokuskan untuk menangani korban luka-luka akibat serangan kaum Yahudi tersebut. Bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan juga terus mengalir sampai tulisan ini diturunkan. Kalangan ulama pun tidak tinggal diam. Baik perseorangan maupun lembaga/organisasi. Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh dan Syeikh Abdurrahman As Sudais mengecam dengan keras aksi serangan tersebut dalam khutbah jum’at mereka. Mereka dan umumnya para khatib di Saudi tidak lupa mendo’akan kaum muslimin Palestina secara khusus. Lajnah Daa’imah juga mengeluarkan pernyataan dalam menyikapi tragedi di Jalur Gaza tersebut. Dan masih banyak lagi bentuk bantuan baik materi maupun moril/spirit.
Namun ada segelintir orang menutup mata dengan kenyataan ini dan berkomentar, “Saudi Arabia adalah negara yang takut dengan Amerika dan kurang memberikan bantuan yang konkrit kepada kaum muslimin di Palestina.” atau kalimat yang semisalnya.
Terhadap siapa saja yang berkomentar seperti di atas, saya katakan:
Apakah maksud Anda dengan kata ‘konkrit’ bahwa Anda menginginkan agar Pemerintah Saudi mengirimkan tentaranya ke Palestina untuk menghantam pasukan Israel? Baiklah jika memang demikian, apakah Amerika akan tinggal diam? Padahal Allah berfirman (yang artinya), “…dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian dalam kebinasaan…” (Qs. Al Baqarah: 195)
Taruhlah seperti apa yang Anda inginkan bahkan lebih dari itu -semua pemerintah negara muslim mengizinkan rakyatnya untuk berjihad ke palestina dan saya berhusnudzdzan Anda akan ikut serta di dalamnya-, maka Anda akan berjihad di bawah bendera siapa di Palestina? Di bawah bendera HAMAS kah? Atau berspandukkan AL FATH? Atau barangkali di bawah komando Jihad Islami Palestina (JIP)? Atau Anda memimpin laskar jihad yang Anda buat sendiri? Tahukah Anda bahwa jihad bukan hanya perkara mengucapkan dan meneriakkan, “…’Isy kariiman… aw Mut syahiidan…” (Hiduplah dalam kemuliaan atau matilah sebagai syahid)? Namun jihad membutuhkan seorang imam dan tandhim (taktik dan siasat perang). Dan yang lebih penting lagi, apakah Anda yakin bahwa masing-masing front/partai/hizb itu berperang untuk meninggikan kalimat Laa ilaaha illallaah? Qul Haatu burhaanakum in kuntum shaadiqiin.
Jika Anda mengatakan, “Kaum muslimin harus berada dalam satu barisan dalam menghadapi dan menyikapi Yahudi.”, maka saya tidak berbeda pendapat dengan Anda. Bahkan tidak ada dua orang muslim yang berselisih pendapat tentangnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs. Ash Shaff: 4)
Namun bagaimana Anda bisa mempersatukan barisan kaum muslimin untuk berjihad, sedangkan di tengah-tengah mereka masih banyak kaum muslimin yang menyembah kuburan, menghambakan diri kepada dukun (dengan mematuhi persyaratannya atau menjalankan lelaku walaupun bertentangan dengan syari’at), paranormal (dengan membenarkan berita gaib yang sampai kepadanya), dan tukang pelet? Bagaimana pula halnya kalau kaum muslimin yang terjun di medan jihad, banyak di antara mereka yang memakai jimat, atau membaca mantera-mantera yang telah dirajah oleh mbah-mbah dukun supaya kebal senjata api dan agar tidak terdeteksi oleh radar?! Bagaimana Anda akan mempersatukan kaum muslimin dalam rangka jihad, kalau segolongan di antara mereka tidak akan berangkat perang sebelum melakukan thawaf (mengelilingi) kuburan seseorang yang dianggap wali? Atau bagaimana pula jika segolongan yang lain tidak akan berperang kalau yang menjadi imam bukan dari golongannya? Atau bagaimana kaum muslimin akan bersatu padu dalam medan jihad, kalau mereka ketika dikumandangkan seruan azan “Mari mencapai kemenangan…” 2x bermalas-malasan mendatangi masjid (terutama waktu fajr/shubuh)?
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pondasi segala sesuatu adalah Al Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR. At Tirmidzi, Hasan Shahih). Al Islam itu sendiri adalah istislam (berserah diri) kepada Allah dengan mentauhidkanNya, dan inqiyaad (patuh) dengan mentaatiNya, dan baraa’ah (berlepas diri) dari kesyirikan dan pelakunya. Berdasarkan hadits ini, kaum muslimin tidak akan berhasil menggapai puncak kejayaan, jikalau pondasi dan tiangnya keropos.
Jika Anda bersikap adil, mengapa Anda hanya menggugat Saudi Arabia? Bukankah negara yang berbatasan dengan Palestina adalah Mesir, Yordania, Libanon serta Syiria? Seharusnya negara-negara tersebut yang paling mudah untuk mengirim pasukan-pasukannya mengepung dan meremukkan artileri dan infanteri Yahudi. Namun pertanyaan politis yang harus Anda jawab terlebih dahulu adalah: Apakah negara-negara Arab yang disebutkan terakhir (sebagai misal saja) politik luar negerinya merupakan politik anti Amerika???
Dalam lingkup yang lebih sempit, idealnya negara-negara Arab seharusnya bersatu dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Namun, kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Buktinya salah satu negara yang berbatasan dengan Jalur Gaza menilai Hamas lah yang menyebabkan tragedi berdarah di kota yang berhadapan dengan laut Mediterrania (Al Bahru -l Mutawassith) itu. Sedangkan Saudi Arabia dan beberapa negara arab lainnya menilai Israel telah melakukan sesuatu yang tidak berprikemanusiaan. Lihatlah! Sesama negara Arab berbeda pandangan dan sikap. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang baru. Telah terjadi jauh sebelumnya pengkhianatan di kalangan negara Arab dalam menghadapi Israel pada tahun 1967 dalam perang yang dikenal sejarah sebagai Perang Enam Hari. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada tahun 1973, di mana bangsa Arab bersatu padu di bawah komando Raja Faisal bin Abdul Aziz –rahimahullah- akhirnya berhasil memukul mundur dan mengusir Israel keluar dari Sainaa’.
Oleh karena itu bersikaplah adil dan bijaksana dalam menilai segala sesuatu. Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti dan fakta. Mengapa kita disibukkan dengan menilai dan mensifati orang lain dan lalai menilai diri kita sendiri? Mengapa kita tidak berlomba-lomba melebihi Saudi Arabia dalam membantu korban kedzaliman Yahudi tersebut? Silahkan saja bandingkan antara Saudi Arabia dengan negara mana saja dalam hal donasi untuk Program Peduli Palestina.
Akhirnya, mari kita mendo’akan kaum muslimin yang muwahhid yang menjadi korban kedzaliman tentara Yahudi di Jalur Gaza khususnya, dan Palestina umumnya, agar mendapatkan syahadah fii sabiilillah dan semoga kita dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiiqiin, para syuhada’ dan orang-orang shalih.
Washallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad, wa aakhiru da’waanaa anil hamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Riyadh, 14 Muharram 1430 H

Tentang Beasiswa MEDIU

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan dan keluhan yang sampai ke meja kami baik melalui SMS, telepon, email ataupun datang sendiri ke LC Yogyakarta, maka kami merasa perlu menyampaikan pengumuman sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil seleksi yang dilakukan oleh tim A&R (Admission & Record) di Shah Alam, Malaysia, maka yang berkelayakan untuk diterima sebagai mahasiswa MEDIU ada 216 orang sebagaimana yang telah diumumkan sebelumnya di situs ini.
  2. Sesungguhnya MEDIU berkehendak membantu sebanyak-banyaknya, akan tetapi apalah daya ketika paket beasiswa yang tersedia dari donasi para muhsinin untuk LC Yogyakarta hanyalah 150. Pihak SAC di Shah Alam, memilih 150 orang diantara yang memiliki kualifikasi tertinggi diantara 216 orang yang dinyatakan lulus tes.
  3. Perlu diketahui, bahwa MEDIU bukanlah universitas gratisan. Akan tetapi MEDIU adalah sebuah Universitas yang berkedudukan di Malaysia dengan struktur biaya perkuliahan sebagai berikut:
    Biaya Non-Akademis 

    Semester Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4
    Semester 1 $ 253 $ 190 $ 190 $ 175
    Semester 2 $ 175 $ 175 $ 175 $ 157
    Total $ 428 $ 365 $ 365 $ 332
    Total 4 tahun $ 1490

    Biaya Akademis

    Semester Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4
    Semester 1 $ 714 $ 630 $ 714 $ 588
    Semester 2 $ 672 $ 714 $ 714 $ 588
    Total $ 1386 $ 1344 $ 1428 $ 1176
    Total 4 tahun $ 5334
  4. Dengan mempertimbangkan besarnya biaya perkuliahan tersebut kami harapkan bagi yang terpilih -dengan kehendak Allah- untuk menerima paket beasiswa dari para muhsinin melalui MEDIU, maka kami harapkan dapat menunaikan amanah dan kewajiban-kewajiban yang menununtut untuk ditunaikan sebagai konsekuensi dari beasiswa tersebut, yaitu untuk berprestasi tinggi. Juga sebagai wujud pertanggung jawaban telah mengambil kesempatan ratusan orang lainnya yang tidak mendapatkannya.
  5. Paket beasiswa mediu adalah untuk satu kali saja, sehingga jika ada matakuliah yang terpakasa diulang karena mendapat nilai D, E ataupun F, maka mahasiswa yang bersangkutan harus menanggung sendiri biaya SPP/SKS untuk setiap mata kuliah yang diulang. Sedangkan apabila masa studinya melebihi standar yang ditetapkan, maka akan juga dikenakan biaya lain-lain sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
  6. Apabila mahasiswa penerima beasiswa tersebut hendak mengundurkan diri, maka ia berkewajiban mengganti biaya studi secara proporsional yang telah dia gunakan selama menjadi mahasiswa di MEDIU.
  7. Mahasiswa yang tidak mendapatkan beasiswa diharapkan mengisi reply formnya dengan memilih “I would like to accept and defer the admission to the program” karena, jika ada mahasiswa yang mendapatkan beasiswa mengundurkan diri, maka akan dipilih mahasiswa lain untuk menggantikannya. Bagi mahasiswa yang belum menerima offer leter dan reply formnya dapat menghubungi sekretariat MEDIU Learning Center Yogyakarta di 085228302205 (Tlp/SMS) pada jam kerja. Reply form tersebut harus sampai di LC Yogyakarta selambatnya hari kamis 24 Oktober 2008 di LC Yogyakarta.
    Format sms: No Referensi/Nama/Email
  8. Bagi mahasiswa baru wajib menghadiri lecture pertama di Learning Center/Service Center terdekat pada tanggal 26 Oktober 2008. Kecuali untuk wilayah jakarta, sementara diadakan di tempat Orientasi pada hari ahad yang lalu (Info selengkapnya hubungi ust. Ali Saman, Lc.: 0817181281). Dikecualikan pula bagi mahasiswa yang sudah memahami cara teleconference deangan dimdim, akan tetapi dianjurkan untuk online 30-45 menit sebelum kuliah dimulai dan berkonsultasi dengan Yulian (ian_doang) melalui YM mengenai teknisnya.
  9. Segala keluhan atau pertanyaan, harap disampaikan melalui email: yogyakarta@mediu.edu.my